Pengalaman Lulus Ujian CPNS Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)

Menjelang akhir Tahun 2014 pembukaan lowongan Calon Pegawai Negeri Sipil atau yang sering disingkat dengan CPNS (meskipun sekarang nama resminya adalah Calon Aparatur Sipil Negara atau CASN) sedang gencar-gencarnya dibuka besar-besaran. Meskipun saya sudah bekerja di salah satu Kantor Hukum dan Perusahaan Swasta di Jakarta dan tidak berencana menjadi seorang Abdi negara, meskipun faktanya saya telah mencoba ujian Tes CPNS dua tahun sebelumnya yaitu Tahun 2012 di LIPI dan Tahun 2013 di BKPM dan Kementerian Keuangan,namun harus “kalah” dengan segala berbagai alasan. Memang sih waktu itu saya hanya coba-coba saja tidak ada persiapan sama sekali dan memang tidak ada niat untuk menjadi CPNS.

Namun pemberitaan mengenai pembukaan CPNS Tahun 2014 menjadi beban pikiran saya. Hal itu dikarenakan pengumuman pembukaan CPNS Tahun 2014 diselingi berita mengenai akan adanya moratorium penerimaan CPNS selama 5 tahun, imbas dari kebijakan yang dikeluarkan oleh Presiden Jokowi dengan saran Pak Jusuf Kalla. Dengan demikian tidak ada lagi penerimaan CPNS dari jalur umum untuk lima tahun ke depan. Suatu kondisi yang sangat membuat para pencari Jobseeker meringis. Dalam pikiran saya kalau gak dicoba sekarang kapan lagi? toh saya telah merasakan bekerja di berbagai macam jenis Perusahaan/ Badan baik itu di Perusahaan Swasta, Badan Usaha Milik Negara, Bank, dan Kantor Hukum. Kesemuanya memiliki ciri dan manajemen yang berbeda satu sama lainnya, ada yang positif ada juga yang negatif. Namun satu yang belum pernah saya rasakan adalah bekerja di Pemerintahan Pusat, walaupun tidak melulu berujung pada materi, cerita-cerita teman-teman sekampus saya yang telah menjadi PNS cukup memberikan “keirian” tersendiri bagi saya untuk mencobanya.

Banyak orang yang berbondong-bondong ingin menjadi PNS, saya sebelumnya tak habis pikir mengapa bisa demikian. Bukankah gaji PNS itu telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan? dan setahu saya gaji PNS itu tidak lebih dari 5 juta Rupiah. Suatu angka yang Anda dapat peroleh dengan bekerja 1 tahun di Perusahaan Swasta manapun. Namun apa sebenarnya yang menjadikan daya tarik PNS begitu menggoda para pencari kerja? jawaban mereka rata-rata adalah tunjangan anak dan istri, uang pensiun, potensi uang”haram” (yang ini memang keterlaluan) sampai mudah mendapatkan beasiswa ke universitas-universitas baik di dalam maupun luar negeri.

Meskipun saya bukan orang yang mempunyai jiwa swasta tulen, saya juga tidak terlalu kesengsem menjadi PNS, meskipun dua kali telah ikut dan gagal ternyata saudara-saudara :). Namun setelah saya mendapatkan informasi mengenai banyaknya PNS-PNS yang melanjutkan pendidikan ke luar negeri dengan dibiayai oleh pemerintah, maka pemikiran saya mengenai PNS berubah 180 derajat. Jika kita bisa cara yang lebih mudah, mengapa harus yang sulit? itu mungkin yang terlintas dalam benak saya. Mengecap pendidikan di luar negeri merupakan salah satu impian saya sejak dahulu, namun karena keterbatasan dana maka mimpi itu belum bisa direalisasikan sampai sekarang. Maklum saja dengan gaji yang pas-pasan hanya mampu menghidupi diri sendiri di Ibukota tercinta ini. Jika telah menjadi PNS maka untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri itu mudah…itulah kata-kata yang saya dengar yang sering diucapkan dan ditulis oleh teman-teman yang telah menjadi PNS terlebih dahulu.

Alhasil dengan tekad yang bulat dan menggebu-gebu saya berjanji kepada diri sendiri bahwa saya harus lulus pada percobaan ketiga ujian tes CPNS kali ini. Namun sebagaimana yang telah saya singgung sebelumnya, sebelum pengumuman pembukaan diumumkan, berita buruk muncul, peluang mendaftar di lebih dari satu Instansi. Sebagai informasi di tahun-tahun sebelumnya para pelamar boleh melamar lowongan CPNS di lebih dari satu Instansi , alhasil pas pengumuman ada beberapa yang lulus di lebih dari satu Instansi. Bahkan di forum kaskus ada yang ngaku lulus di 7 Instansi sekaligus, makjang!! dalam pikiran saya rajin amat ya itu orang coba CPNS, tapi di sisi lain kasihan orang-orang yang telah lama mendambakan lulus CPNS namun gagal karena ada orang lulus lebih dari instansi sekaligus. Oleh karena alasan inilah pemerintah melalui Panselnas Kemenpan RB memutuskan bahwa para peserta pelamar CPNS Tahun 2014 hanya boleh melamar di 1 instansi saja. Sebagai bukti maka kali ini pendaftaran hanya menggunakan Nomor Induk Penduduk atau yang sering disebut NIP, secara NIP setiap Warga Negara Indonesia satu per tiap-tiap orang maka kemungkinan peserta yang ingin melamar di lebih dari satu instansi kecil, namun kenyataannya masih bisa juga orang melamar dilebih dari satu instansi, saya bahkan pernah melihat orangnya. Menurut saya dalam hati bagaimana ini orang dapat menjadi abdi negara yang jujur toh mendaftar saja sudah tidak jujur, namun ya sudahlah jika dia kedapatan lulus di lebih satu instansi, toh dia juga yang akan dirugikan.

Pendaftaran CPNS

Pendaftaran CPNS Tahun 2014 dapat saya katakan sesuatu yang baru dan belum pernah ada di tahun-tahun sebelumnya. Jika dulu kita mendaftar CPNS dengan terlebih dahulu mempersiapkan banya dokumen persyaratan seperti Kartu Kuning, SKCK, SKBS dan lain sebagainya, tahun 2014 hal tersebut tidak berlaku, cukup dengan KTP saja seseorang sudah dapat mendaftar CPNS di instansi pilihannya. Masalah mulai timbul ketika Kementerian PAN RB mengatakan bahwa hanya pelamar yang mempunyai e-KTP saja yang boleh melamar, alhasil semua pada panik, bingung sekaligus marah karena ada sebagian penduduk Indonesia yang belum kebagian KTP Elektronik, entah salahnya dimana, e-KTP memang lama diterbitkan, namun ujung-ujungnya KTP Non Elektronik juga masih bisa digunakan untuk melamar.

Saya sih pada waktu itu masih bekerja dan masih melihat-melihat potensi kelulusan di masing-masing Instansi. Karena pengumuman pembukaan tidak serentak di masing-masing instansi, alhasil saya tunggu sampai dua minggu sampai seluruh instansi membuka lowongan CPNS. Pilihan utama saya sebenarnya jatuh pada Kementerian Keuangan, alasannya karena instansi ini membuka banya lowongan CPNS, terkhusus untuk lowongan jurusan hukum disediakan lebih dari 120 formasi. Disamping itu saya juga ingin membalas kekalahan saya tahun lalu dimana saya lulus TKD namun tidak bisa mengikuti TKB karena tugas kantor. Namun saya berfikir dan melihat fakta dilapangan bahwa akan lebih dari 10 ribu pelamar maka saingan di instansi ini akan ketat dan ramai. Karena menjadi favorit utama para pelamar, maka Kementerian Keuangan dipastikan akan diikuti oleh peserta-peserta yang mempunyai akademis yang tinggi. Dengan logika perbandingan 120: 1, tentunya sangat sulit untuk mendapatkan bangku di instansi favorit tersebut, alhasil saya urungkan niat saya untuk mencoba kembali.

Pilihan saya selanjutnya jatuh pada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), mengingat banyak juga teman satu kampus yang lulus tahun lalu membuat saya berfikir bakal punya peluang yang baik di sini. Namun setelah saya menulusuri lebih lanjut mengenai BPK di internet, bekerja di Instansi Audit Eksternal Pemerintah yang satu ini bukanlah hal yang mudah dan menyenangkan (at leas that’s my opinion) karena selain banyak sekali pekerjaan, rata-rata PNS BPK itu sering lembur, sesuatu yang saya sangat hindari karena sudah banyak makan garam ketika sering lembur swaktu bekerja di Kantor Hukum. Sebenarnya alasan lain yang mengurungkan niat saya untuk mendaftar di BPK adalah pengumuman kelulusannya itu lho! yang tidak dibuka secara umum jadi para peserta tidak tahu berapa nilainya dan para pesaingnya. Hal ini saya ketahui sewaktu melihat-lihat nilai tes teman-teman kampus saya yang mencoba tahun lalu di BPK dimana penilaiannya hanya bisa dilihat oleh para peserta.

Akhirnya dalam masa-masa kebuntuan dan waktu pendaftaran juga semakin menipis dengan banyak pilihan saya masih belum memutuskan untuk mendaftar di instansi mana. Mau tak mau saya harus memilih di hari terakhir bulan Agustus tersebut, niat awal jatuh kepada Mahkamah Agung, namun niat tersebut terhenti karena pembicaraan dengan salah satu teman kampus saya dahulu. Sebenarnya apa yang dibilangnya konyol, beliau mengatakan, hey bung kalau mau jadi PNS, masuk ke Lembaga yang namanya tersisip kata “uang”. Alhasil saya ngakak deh dengan saran beliau, namun saya tahu beliau cuma bercanda kok. Tapi saya berfikir-fikir emang apa lagi lembaga atau instansi yang namanya tersisip kata “uang”? Kementerian Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan , itu aja kan? dalam hati saya waktu itu, kan saya sudah menimbang-nimbang bahwa tak mungkin lagi saya mengikuti kedua lembaga tersebut. Jadi saya lihatlah daftar Kementerian/lembaga yang membuka lowongan CPNS di situs Panselnas, woop….saya melihat ada namanya Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan atau disingkat BPKP. Saya waktu itu berfikir, ini instansi apaan? kok gak pernah dengar,?. Setelah saya tanya ama mbah Google rupanya BPKP ini adalah Lembaga Audit Internal Pemerintah dan keberadaannya sudah ada sejak Taun 1983 mengalahkan eksistensi BPK di Indonesia. Sebelumnya sih saya sering juga melewati gedung BPKP ini di sekitar Pramuka LIA tapi tidak pernah tahu apa sebenarnya fungsi dan perannya. Saya check lebih lanjut, rupanya kewenangan BPKP ini sudah diambil sebagian besar oleh BPK paska Amendemen UUD RI yang Kedua, sehingga pekerjaan yang dilakukan BPKP tidak seberat BPK karena hanya bekerja jika ada permintaan dari Instansi/Badan Usaha Pemerintah. Wow! dalam hati saya cocok ini dengan kriteria pekerjaan yang saya idamkan untuk saat ini, apalagi lowongan yang disediakan untuk lulusan Sarjana Hukum cukup banyak yaitu sekitar 10 orang untuk ditempatkan diseluruh Indonesia (namun di luar Pulau Jawa dan Bali 🙁 )

Ujian TKD CPNS BPKP Di Kantor Badan Kepegawaian Negara (BKN)

Setelah mendaftar maka keluarlah hasil seleksi Administrasi, walaupun harus menunggu lebih dari 3 minggu, tetap saja pengumuman administrasi menjadi momok, karena banyak juga yang gagal pada tahap ini termasuk teman-teman yang saya kenal. Tak tahu sebenarnya apa masalahnya, namun setelah saya lihat pengumuman hasil administrasinya, peserta yang lulus tidaklah terlalu banyak. Bahkan untuk hukum saja, yang lulus administrasi hanya 18 orang di seluruh Indonesia, rinciannya : 13 Jakarta, 1 Medan, 4 Makasar. BOOM!! Langsung aja loncat kegirangan karena saingan tinggal dikit he..he..he :), namun karena lowongan cuma 10, tentu masih ada saingan. Alhasil dimulailah Tes Kemampuan Dasar untuk menunjukan siapa yang layak untuk maju ke babak selanjutnya.

Tes Kemampuan Dasar CPNS BPKP diadakan di 3 kota (Jakarta, Medan dan Makassar) namun tidak serentak. Untuk yang Jakarta diadakan pada tanggal 3 September, sedangkan kedua kota lainnya serentak pada tanggal 28 September. Pada tanggal 3 tersebut sebenarnya saya harus masuk kerja karena banyak pekerjaan yang belum diselesaikan, namun karena niat dari awal mau lulus, alhasil tetap nekat dah minta cuti ama bos dengan alasan sakit. Walaupun saya yakin bos saya tahu kalau saya itu tes CPNS pada hari itu, tapi diem aja ..:)

Pas datang ke lokasi ujian saya sempat shock karena rupanya ujiannya dibagi beberapa tahap, yang tahap pertama telah dimulai jam 07.30, karena saya datang pas Jam 8, maka jantung berdegup-degup pertanda potensi gagal.

WP_20141003_002

Namun untungnya setelah saya lihat di papan pengumuman mengenai siapa-siapa saja yang ujian di masing-masing tahap akhirnya saya merasa lega, karena saya masuk ke dalam tahapan yang kedua yaitu ujian tes Jam 9 Teng. Wow! banyak sekali orang , namun tak ada satupun yang saya kenal,secara teman-teman saya tesnya di Medan. Namun karena saya berjiwa sosial he..he..he akhirnya saya kenalan dah, namun kebanyakan ama cewek-ceweknya aja he…he…he :). Teman ngobrol saya waktu itu kalau gak salah namanya Bambang, Irawaty dan satu lagi Aprinia Nisa, nah yang terakhir ini kayaknya lulus tes akhir dengan saya, dan pas pada sesi ujian kedua dialah yang mendapatkan nilai tertinggi, hebat benar dah tuh cewek, padahal dia baru lulus lho!

WP_20141003_003

Peserta mendaftar ulang terlebih dahulu sebelum ujian

Sebelum ujian peserta diharapkan mendaftar terlebih dahulu di Panel yang disediakan Panitia, apabila Kartu ujian sudah di stempel dan mendapat paraf maka selanjutnya peserta dianjurkan untuk menitipkan barang bawaannya di loker-loker yang disediakan panitia. Eh iya…ada satu lagi, sebelum peserta masuk, setiap peserta harus di cap terlebih dahulu tangannya. Saya gak tahu sebenarnya ide ini untuk apa, tapi saya tanya kepada panitia…jawabnya dengan nada kesal ” udahlah ikutin aja!” sambil acuh gak acuh. Akhirnya dengan rasa penasaran saya ikuti aja apa kata panitia dan memandangi itu cap ditangan terus menerus sampai waktu ujian dimulai. Saya pikir ini mirip pemilu atau kurban ya? 🙂

WP_20141003_006

Waktu berlalu, akhirnya kami para peserta sesi dua dipersilahkan masuk ke ruang ujian dengan dipanggil satu persatu. Namun sebelum masuk ke kelas, si Bapak Panitia meminta saya untuk menunjukan itu stempel namun saya pura-pura menggaruk-garuk kepala sambil nyolonong aja masuk…alhasil sang Bapak bilang “eh tunggu dulu dek! lihat dulu tangannya apakah ada tanda identifikasi peserta asli, gimana sih?”, terus saya jawab “lah, Bapak tadi saya tanya gunanya apa ini stempel kok malah sewot kayak gak mau peduli?, gimana juga bapak ini?” ujar saya dengan khas logat bataknya. Dengan muka yang masam sang Bapak akhirnya hanya lihat sepintas tangan saya dan mengatakan “ya udah-udah masuk deh” sambil berbalik melayani peserta di belakang saya.

WP_20141003_004

Akhirnya tes itu dimulai, saya buka tuh deh komputer, keluarlah soal-soal TWK yang menurut saya gak masuk akal. Iya juga kan? masa ditanya dimana didirikan ICMI? ICMI itu apaan saya juga gak mudeng, ya udahlah untuk soal-soal TWK yang sulit saya jawab saja dengan nurani dan kalbu :). Oh iya, pas waktu ujian sempat juga ngantuk karena semalam nonton Acara saluran TV Barat sampai jam 3 pagi, acaranya sih gak jelas tapi cukup menghibur he…he..hee. BTW waktu ujiannya sih lama, Namun karena soal-soalnya rata-rata umum dan sudah pernah saya pelajari sejak SMA ya dijawab aja dengan cepat dan seksama :), saya gunakan sisa waktu untuk mengerjakan soal-soal Tes Intelegensi Umum (TIU), karena selain favorit saya, TIU adalah soal-soal yang mana kepastian kebenarannya pas dan dapat dibuktikan, tidak seperti TWK dan TKP. Akhir ujian menyusuri detik-detiknya namun ada satu soal TIU yang belum ada juga jawabannya, waktu tinggal beberapa detik lagi, akhirnya saya putuskan jawab asal-asalan aja tuh soal. Dan Klepp….nilai keluar,,walaupun awalnya pesimis dapat nilai di atas 350, entah keajaiban dari mana bisa keluar nilai 369? rusak kali komputersnya dalam hati saya he..he…he.

Uniknya pada seleksi ujian CPNS tahun ini di BKN, selain nilainya, peserta juga dapat melihat seluruh nilai para peserta lain yang ikut ujian dengannya di flat screen nilai yang disediakan panitia. Wah dalam hati dengan nilai segitu urutan berapa ya kira-kira saya. Bukan sulap bukan sihir saudara-saudara,,, saya masuk 10 besar, menempati urutan ke 6.

WP_20141003_024

Ya setelah mengetahui saya mendapatkan nilai dan posisi yang aman, pulang dah saya, karena gak kerja, makan-makan bareng lah ke lapo ama teman-teman saya yang belum bekerja. “Entah apapun yang dirayakan, pokoknya makan ajalah yang banyak” dalam pikiran saya, apalagi gaji baru keluar 3 hari sebelumnya, kalau gak sekarang kapan lagi? he…he..hee 🙂

Ujian Tes Kemampuan Bidang (TKB) Bahasa Inggris

Menunggu adalah salah satu kegiatan yang membosankan, apalagi menunggu hasil ujian yang belum pengumuman akhir. Seperti kapas di atas kolam, hanyut tak mau, terbang ogah-ogahan… 🙂 pengumuman hasil TKD sungguh sangat lama. Akhirnya pada tanggal 19 November diumumkanlah hasil TKB tersebut. Hasilnya membuat saya loncat kegirangan karena untuk jurusan hukum tersisa 9 orang dari 10 posisi jabatan yang diperebutkan, jadi peluang lulus semakin terbuka.

WP_20141124_005

Sebelum mengikuti tes TKB para peserta diminta untuk melengkapi seluruh dokumen kelengkapan sebelum masuk keruang kelas.

WP_20141124_006

To be Continued……

 

 

 

About the Author

Seorang Lawyer dan Auditor yang menguasai ilmu khusus seperti Tindak Pidana Korupsi, Penyelesaian Sengketa Pemilihan Kepala Daerah, Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah dan Hibah Daerah /Bantuan Sosial

Author Archive Page

Comments

Leave a Reply