Motivasi 101 : Sikap Inspiratif Dari Pimpinan Saya

Sebagian orang mungkin merasakan bahwa sosok Pimpinan merupakan seorang yang patut ditakuti, dihormati bahkan untuk sebagian orang “harus” dijauhi untuk kemaslahatan dirinya. Terkadang kita merasa bahwa pimpinan bukan sosok yang bersahabat dan sering kali bersebrangan dengan dirinya. Padahal pimpinan adalah contoh sosok yang bisa kita contohi untuk menggapai karir yang lebih baik – karena untuk menjadi pemimpin bukan hal yang mudah – butuh perjuangan yang bisa kita teladani.

Dalam setiap penugasan bersama pimpinan, saya sering memperhatikan setiap langkah-langkah dan sikap pimpinan saya utarakan dalam mencari solusi atau menyelesaikan permasalahan yang dijumpai ketika melaksanakan penugasan. Hal yang sangat saya acungi jempol dari sosok dirinya adalah kemampuannya yang luar biasa untuk kontrol diri ketika diserang/dijatuhkan/diremehkan oleh pihak lawan dalam penugasan. Beliau adalah sosok yang bukan tipe pendebat atau keras kepala untuk pendapatnya harus didengarkan. Beliau lebih mementingkan etika, serta mendengar terlebih dahulu lalu menjawab.

ombakPimpinan saya sepertinya paham jika keras kepala dan menyerang balik bukanlah jawaban yang tepat untuk melawan lawan-lawannya. Lebih dari itu, kebijaksanaan, kedewasaan dan kemampuan tetap tenang menjadi senjata utamanya untuk memenangkan perdebatan. Meskipun akhirnya beliau dianggap sebagai pihak yang kalah dan hasil pekerjaan yang kami lakukan tidak dihargai sama sekali oleh pihak mitra, namun beliau tetap berlapang dada, tersenyum dan tidak patah semangat.

Saya sangat yakin dengan kemampuannya karena saya juga ikut terlibat dalam penyusunan produk pekerjaan yang kami hasilkan. Dan beliau bukan sosok yang biasa-biasa, tapi lebih dari itu dia mempunyai kemampuan yang sangat luar biasa itu namun yang bersangkutan tidak mau menunjukannya kepada orang lain.

Sewaktu dalam penugasan dimana dia diserang habis-habisan bahkan dipermalukan di depan khalayak umum, dia tetap tegap berdiri dan tak menghiraukan sikap lawan-lawannya yang melampau batas kesopanan yang tak seharusnya melekat pada sosok seorang Pejabat Negara.

“Tetap tenang dalam serangan” itulah yang saya dapatkan pada hari itu dari sosok pimpinan saya. Dia menunjukan kepada saya bahwa panik, marah, keras kepala , tetap melawan sebagai respon dari adanya “serangan” dari luar bukanlah solusi yang tepat serta justru akan membuat kita menjadi seseorang yang mempermalukan diri sendiri. Saya melihat lawan-lawan Pimpinan saya tersebut sebagai sosok-sosok yang sombong, merasa diri paling hebat, tidak ada tata krama dan semaunya. Mereka belum memahami arti dari sebuah pekerjaan dengan etika profesi yang baik. Mereka menganggap dengan suara yang lantang dan ceplas-ceplos akan membuat orang menganggap mereka hebat. Namun mereka salah besar, karena mereka hanya mempermalukan diri sendiri.

Saya teringat dengan kejadian ketika masih saat masa kuliah dimana debat hukum merupakan hal yang saya sukai. Jika ada yang berani debat dengan saya maka dapat saya pastikan mereka-mereka ini akan pulang dengan muka malu. Salah dan benar semua akan saya keluarkan dari mulut saya untuk mendukung argumen-argumen pedas saya. Saya merasa puas jika sudah tidak ada lagi yang berdebat dengan saya. Namun beranjak waktu, saya memahami sebenarnya itu bukan hal yang baik. Terkadang kita tidak perlu bicara ketika mendengar itu justru akan memberikan manfaat kepada kita.

Terkadang kita merasa bahwa suara kita harus didengar agar orang lain terkesima. Tanpa kita sadari kita memutuskan bahwa dengan hidup seperti itu kita menjadikan orang lain berperan penting dalam menentukan hidup kita. The truth is, we don’t need other’s approval to start thriving.

Pimpinan saya paham sekali seni mendengar ini, dia tetap tenang dan mendengarkan ketika ada orang yang jelas-jelas bertujuan untuk menjatuhkannya. Sikap seperti itu merupakan sikap yang wajib dimiliki oleh orang-orang yang sukses seperti yang diuraikan oleh Stephen R Covey dalam buku laris legendarisnya berjudul ” The 7 Habits of Highly Effective People”. Dan untuk memiliki sikap ini bukanlah hal-hal yang mudah, butuh pengalaman pahit yang bertubi-tubi harus Anda alami namun percayalah kemenangan pada akhirnya jatuh kepada pihak yang tenang saat perang.

Menjadi seorang pemimpin mungkin sebagian orang adalah impian namun mereka tidak pernah berfikir bagaimana “susahnya” para pimpinan tersebut mencapai posisi mereka saat ini. Mereka tentunya banyak mengalami banyak cemoohan, diremehkan, direndahkan, tidak dihargai dan segala hal yang menjatuhkan harga diri mereka. Namun mereka paham tanpa mengalami hal itu semua mereka tidak bisa menjadi seorang pimpinan yang dikagumi bukan hanya oleh bawahannya namun semua orang. Tidak mudah untuk seperti itu, tapi hidup akan berputar dan suatu saat kita akan mengalaminya juga, pilihannya adalah apakah respon kita bijaksana atau termakan dengan amarah yang justru akan menjatuhkan kita ke jurang kegagalan. Life is choice, make your good choice!

About the Author

Seorang Lawyer dan Auditor yang menguasai ilmu khusus seperti Tindak Pidana Korupsi, Penyelesaian Sengketa Pemilihan Kepala Daerah, Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah dan Hibah Daerah /Bantuan Sosial

Author Archive Page

Comments

Leave a Reply