Menteri Rini Soemarno Kok Semangat Sekali Menjual Aset Negara?

Rini Soemarno menjual aset negaraRencana Menteri BUMN Indonesia, Rini Soemarno yang ingin menjual saham salah satu BUMN Indonesia dengan cara share swap atau tukar guling saham antara PT Dayamitra Telkom (Mitratel) dengan Tower Bersama Infrastruktur (TBIG) sepertinya tidak terbendung lagi. Hal ini karena Menteri Rini sepertinya tidak lagi mengubris desakan KPK dan laporan beberapa LSM seperti Indonesian CLub. Sampai-sampai Prabowo juga menyambangi kediamannya untuk protes terhadap rencananya yang terkesan buru-buru. Ada apa sampai Menteri Rini ingin sekali menjual semua Aset Negara?

Masih ingat dengan rencananya ingin menjual gedung Kementerian BUMN tahun lalu? beliau dinilai oleh para pengamat ekonomi sebagai seorang yang tidak mempunyai visi dan tidak bijak sama sekali sebagai mantan pengusaha. Pada waktu itu Rini beralasan bahwa gedung yang berada di Jalan Merdeka Selatan itu terlalu besar untuk Kementerian yang ia pimpin dimana hanya ditempati oleh 250 Karyawan, oleh karenanya untuk menghemat pengeluaran alangkah baiknya gedung tersebut harus dijual. Namun apakah keputusan itu bijak? mengapa tidak disewakan saja, mengapa sepertinya urgensi yang diinginkan Rini hanya uangnya bukan pada efesiensi di Kementerian yang beliau pimpini.

Belum lepas dengan kritik-kritik pedas akibat rencananya menjual gedung Kementerian BUMN tersebut, Rini kini kembali bersemangat untuk menjual aset negara lainnya sebelumnya dia juga telah diritik oleh LSM Indonesian Club karena dinilai lagi-lagi tidak bijak dalam hal menjaga keamanan kerahasiaan negara dengan membangun data centre Telkom Indonesia di Singapura. Banyak yang menilai bahwa tindakannya dapat membahayakan keamanan negara paska disadapnya pembicaraan Presiden SBY oleh negara tetangga tempo dulu. Jika sudah begini apakah beliau masih ngotot untuk terus menjual aset negara?

Rupanya kritik pedas tidak menurunkan niatnya untuk menjual aset negara kali ini giliran Mitratel yang akan di share swap atau tukar guling saham dengan PT Tower Bersama Infratsruktur (TBIG). Menteri Rini Soemarno menganggap rencana share swap saham Mitratel dengan TBIG sebagai jalan Telkom untuk membesarkan bisnis menara. Maka, dengan langkah tersebut Telkom tidak akan dibebani biaya modal untuk menambah jumlah menara yang nilainya bisa mencapai Rp 1,5 triliunRp 2 triliun per tahun. Namun apakah perkiraan itu benar? soalnya Berdasarkan Conditional Share Exchange Agreement (CSEA) dengan TBIG, monetisasi Mitratel dilakukan dalam 4 bagian. Pertama, TBIG akan membeli 100 persen saham Telkom di Mitratel dengan kepemilikan 13,7 persen saham di TBIG. Nah, penjualan saham dengan cara share swap inilah yang dinilai oleh Lembaga anti rasuah atau KPK berindikasi menyebabkan kerugian keuangan negara. Apalagi dengan transaksi tersebut saham Telkom di Mitratel akan dijual semua kepada pihak swasta.

Bahkan untuk meyakinkan kembali agar Menteri Rini mempertimbangkan keputusannya tersebut, KPK telah melakukan kajian dengan beberapa ahli dan hasil kajiannya telah diberikan kepada Menteri yang bersangkutan. Namun mengapa sepertinya Menteri Rini menutup telinganya? mengapa sepertinya Rini tidak merasa malu sering dikritik habis-habisan oleh para ahli ekonomi, LSM , KPK dan lembaga lainnya terkait dengan kebijakannya yang hobi dalam menjual aset negara.

Wahai Ibu Menteri dengarkanlah nasihat dari para ahli, jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Uang negara itu uang rakyat jadi jangan disalahgunakan, semua tindakan yang tidak bijakasana akan diingat oleh sebagian besar masyarakat dan harus Anda pertanggungjawabkan nantinya. Bekerjalah untuk rakyat, jangan bekerja untuk sebagian oknum yang hanya mementingkan kepentingan pribadinya saja. Sungguh luar biasa jika Anda dapat melakukannya.

About the Author

Seorang Lawyer dan Auditor yang menguasai ilmu khusus seperti Tindak Pidana Korupsi, Penyelesaian Sengketa Pemilihan Kepala Daerah, Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah dan Hibah Daerah /Bantuan Sosial

Author Archive Page

Comments

Leave a Reply